Bakar Tongkang di Bagan Siapiapi

Bakar Tongkang di Bagan Siapiapi

Bakar Tongkang Bagan Siapiapi – Kota Bagan Siapi-api ada di bawah lindungan Kabupaten Rokan Hulu, propinsi Riau.

Tetapi karena pendangkalan dan pemakaian alat pukat, ekosistem ikan di pulau ini menyusut banyak.

Walau nama kota Bagan Siapi-api tidak sepopuler beberapa kota kecil lain di pesisir pulau Sumatra, tapi tiap tahunnya baik wisatawan lokal atau asing bersama-sama ke kota ini untuk melihat Ritus Bakar Tongkang.

Bakar Tongkang di Bagan Siapiapi yang Bermakna

Budaya Bakar Tongkang juga dikenal selaku Upacara Bakar Tongkang (Hanzi Simpel: 烧王船庆典; Hanyu Pinyin: Shao Wang Chuan Qing Dian).

Secara singkat dalam Bahasa Hokkien dikenali selaku Go Gek Cap Lak (Hanzi Simpel: 五月十六日) ialah satu ritus tahunan warga di Bagansiapiapi yang sudah populer di luar negeri dan masuk ke kalender visit Indonesia.

Baca Juga: Bagi Kalian Tertarik dengan Wisata Air

Tiap tahunnya ritus ini sanggup mengisap pelancong dari negara Malaysia, Singapura, Thailand, Taiwan sampai Tiongkok Dataran. Sekarang even tahunan ini terus-menerus dipropagandakan oleh pemerintahan Kabupaten Rokan Hulu selaku sumber pariwisata.

Berawal dari tuntutan kualitas hidup yang lebih bagus kembali, sekumpulan orang Tionghoa dari Propinsi Fujian – China, mengelana seberangi lautan dengan kapal kayu simple.

Selang beberapa saat, pada kesunyian malam mendadak mereka menyaksikan ada sinar yang samar-samar. Dengan berpikir di mana terdapat api disanalah ada dataran dan kehidupan, pada akhirnya mereka mengikut arah sinar itu, sampai tiba mereka di dataran Selat Malaka itu.

Mereka yang landing di tanah itu sekitar 18 orang yang keseluruhnya bermarga Ang. Sinar jelas yang disaksikan ke-18 perantau ini di saat kehilangan arah ialah sinar yang dibuat oleh kunang-kunang di atas bagan (tempat penampungan ikan di dermaga).

Mereka berikut yang selanjutnya dipandang seperti nenek moyang orang Tionghoa Bagansiapiapi. Hingga sebagian besar masyarakat Tionghoa Bagansiapiapi sekarang ialah bermarga Ang atau Hong.

Pada penanggalan Imlek bulan ke-5 tanggal 16, beberapa perantau memijakkan kaki di dataran itu, mereka mengetahui jika di situ ada beberapa ikan laut, dengan penuh gembira mereka tangkap ikan untuk tuntutan hidup. Mulai mereka bertahan hidup di tanah perantauan itu.

Lalu, hal menarik apa yang menarik pelancong untuk mengikut Ritus Bakar Tongkang ini ? Berikut penjelasannya.

  1. Ritus Bakar Tongkang sudah berjalan dari tahun 1926

Buat melamun kembali sebagian nenek moyang dalam mengalami Bagansiapiapi serta berlaku seperti wujud sukur pada dewa Kie Ong Betul, saat ini masing- masing tahun diselenggarakan Ritus Bakar Tongkang ataupun Go Tanda Lak. Go berarti bulan ke- 5 serta Tanda Lak berarti bertepatan pada enambelas, keramaian Go Tanda Lak jatuh pada bertepatan pada 16 bulan ke- 5 lunar masing- masing tahunnya.

Mencuplik dari postingan yang dengan kepala karangan Etnografi Komunikasi Adat Bakar Tongkang( Go Ge Tanda Lak) di Kabupaten Rokan Asal, Ritus Bakar Tongkang terkini dimulai 100 tahun setelah kedatangan awal etnik Tionghoa di Denah Siapi- api, ialah sekeliling tahun 1926. Namun pada tahun 2020 ritus ini ditiadakan karena wabahk virus COVID- 19.

Buat melamun kembali sebagian nenek moyang dalam mengalami Bagansiapiapi serta berlaku seperti wujud sukur pada dewa Kie Ong Betul, saat ini masing- masing tahun diselenggarakan Ritus Bakar Tongkang ataupun Go Tanda Lak. Go berarti bulan ke- 5 serta Tanda Lak berarti bertepatan pada enambelas, keramaian Go Tanda Lak jatuh pada bertepatan pada 16 bulan ke- 5 lunar masing- masing tahunnya.

  1. Ritus Bakar ini berlaku seperti tanda bila warga etnik Tionghoa hendak membuka kehidupan terkini di Denah Siapi- api

Awal kali ritus ini terpaut kokoh dengan riwayat kedatangan etnik Tionghoa di kota Denah Siapi- api. Dikala itu sekumpulan pengungsi etnik Tionghoa dari Thailand telah sebagian hari terdapat di perairan serta dipercayai bila sebab berkah mereka ke dewa Laut( Kie Ong Betul), mereka berhasil berlabuh di pantai kota yang berikutnya dituturkan Denah Siapi- api. Informasinya terdapat 3 kapal tongkang yang mereka naiki, namun cuman satu yang aman.

Pembakaran kapal tongkang dalam adat ini, bagaikan tanda- tanda bila pengungsi ini hendak membuka kehidupan terkini di kota Denah Siapi- api serta tidak kembali pada area asal mereka. Disamping itu ritus ini buat rayakan balik tahun dewa laut Kie Ong Betul.

  1. Ritus Bakar Tongkang ini diperingati masing- masing tahun beralasan penanggalan Tionghoa

Kegiatan Bakar Tongkang ini dimulai pada bulan ke- 5 ataupun dituturkan Go, bertepatan pada 15 ataupun 16 di almanak Tiongkok. Warga hendak mempersiapkan kegiatan ini jauh hari, contoh pengerjaan kapal Tongkang.

  1. Posisi tumbangnya pilar kapal mengenali pangkal pemasukan satu tahun di depan

Durasi pembakaran kapal, bagus warga ataupun turis hendak memandang arah tumbangnya pilar kapal. Informasinya arah tumbangnya pilar kapal menyiratkan pangkal pemasukan warga kota Denah Siapi- api sejauh satu tahun di depan.

Pilar kapal yang jatuh ke bumi ataupun tanah mengenali tradisi yang berjalan di bumi jadi pangkal pemasukan buat warga. Lagi pilar kapal yang jatuh ke laut mengenali pangkal pemasukan yang dari laut.

  1. Kepala adat- istiadat serta Tang Ki resmikan Tongkang dikala saat sebelum dibawa berkisaran buat berikutnya dibakar

Di bertepatan pada 15 bulan ke- 5 beralasan penanggalan Tiongkok, warga Tionghoa membuka keramaian dengan berharap di Kelenteng Ing Hok Kiong yang berikutnya diiringi dengan kegiatan penjemputan Tongkang. Kelenteng berikutnya ditutup hingga besok harinya.

Besok harinya, bertepatan pada 16, kelenteng dibuka kembali setelah kepala adat- istiadat serta Tang Ki( orang yang dipercayai memiliki daya filsafat) resmikan Tongkang. Warga Tionghoa berikutnya membawa Tongkang ke posisi pembakaran jam 4 petang.

  1. Ritual Bakar Tongkang tercantum di dalam almanak pariwisata Indonesia

Masyarakat etnik Tionghoa yang orang asli Denah namun hidup mengelana ataupun jadi musafir informasinya hendak kembali pada kota Denah. Buat mengikut Ritus Bakar Tongkang dapat diucap pada ritual ini kembali kampong buat merayakannya bersama.

Mengeluarkan dari informasi yang dicatat oleh Suka Rarasati buat Fakultas Wawasan Sosial serta Wawasan Politik di Kampus Riau.

Jumlah turis asing yang masuk di Denah Siapi- api tahun 2017 peroleh 14550. Turis luar negara itu berasal dari Malaysia, Thailand, Singapore, Hong Kong serta Taiwan.

Departemen Pariwisata masukan Ritual Bakar Tongkang ini dalam Luar lazim 100 of Calendar of Moments Wonderful Indonesia. Dengan keinginan buat menarik kian bany Ringkasan arti aktivitas ritus bakar tongkang oleh masyarakat Tionghoa.

Untuk menggalang kebersamaan sama-sama etnis Tionghoa biasanya dan di Bagan Siapiapi pada terutamanya. Selanjutnya arti lain menurut figur agama masyarakat Tionghoa untuk merajut persaudaraan antar sama-sama umat manusia.

Ritus Bakar Tongkang benar-benar bermutu dan sanggup jadi magnet kehadiran pelancong luar negeri. Khususnya dari Malaysia, Singapura, Thailand, Taiwan dan China. Itu 6 kelebihan Ritus Bakar Tongkang yang kecuali menarik penuh arti.

Ritus Bakar Tongkang ini terbuka untuk semuanya orang dan melalui perayaan ini. Kita bisa melihat salah satunya riwayat kebudayaan yang berada di kota Bagan Siapi-api.

Apa kalian ketarik tiba untuk melihatnya langsung? Kami percaya bila kalian ke sana dan melihatnya langsung, kalian akan takjub dengan kebudayaan yang baru kalian saksikan itu.