Coba kunjungi Tristan da Cunha

Apakah bisa Bertahan Tinggal disini? Coba kunjungi Tristan da Cunha

kunjungi Tristan da Cunha – Dunia selalu simpan berjuta-juta mistis didalamnya. Entahlah dari faktor riwayat atau beberapa tempat misteri.

Misalnya saja mengenai beberapa pulau terasing yang jauh dari perkotaan dan tidak terjamah zaman modernisasi.

Coba kunjungi Tristan da Cunha

Beberapa pulau terasing itu ada yang memiliki penghuni ada juga yang tidak. Diantaranya ialah pulau namanya Tristan da Cunha. Pulau yang ini adalah tempat paling terasing di dunia yang ditempati manusia.

Baca Juga: Akses Yang Mudah Camping di Bandung

Berikut, beberapa bukti menarik mengenai pulau kecil ini yang perlu kamu kenali tentang dan coba kunjungi Tristan da Cunha

  1. Pulau memiliki penghuni paling terasing di dunia

Di tengah-tengah bentang lautan yang luas, siapakah yang menduga ada kehidupan dalam suatu pulau kecil seperti Tristan da Cunha. Letak pulau ini seputar 2.300 km dari Afrika Selatan dan 3.300 km dari Amerika Selatan. Satu jarak yang tidak dapat disebutkan dekat. Bahkan juga dengan pulau paling dekat, Saint Helena juga jaraknya capai 2.400 km.

Untuk beberapa wisatawan, bukan hal yang gampang untuk bertandang ke pulau ini. Untuk dapat nikmati pemandangan dan saksikan secara langsung kehidupan di situ perlu saat yang benar-benar lama.

Perlu keberanian yang mengagumkan untuk ke dan tinggal di situ. Bila Anda pengin menyaksikan sendiri pulau memiliki penghuni yang paling terasing di dunia, berikut langkahnya:

  • Terbang ke Cape Town, ibukota Afrika Selatan
  • Lalu menumpang perahu monitor untuk seberangi Samudera Atlantik Selatan
  • Terus melaut sepanjang 18 hari melalui gelombang laut yang paling garang di planet Bumi, mengharap agar bisa istirahat dalam kabut, dan menyaksikan sepintas beberapa pulau khusus yang mengagumkan
  • Saat merapat ke pulau, berdoalah supaya angin surut dalam saat yang lumayan lama hingga dapat bertambat dan turun dari kapal.
  • Kemudian, selekasnya ambil perahu keluar dari air saat sebelum ombak menghajar kapal ke batu-batuan, atau lambaikan tangan – kemungkinan seseorang akan menyaksikan dan jemput Anda

Disamping itu, benar ada langkah lain yakni memakai perahu “cepat”: cuman enam hari perjalanan dengan Kapal SA Agulhas – tetapi permasalahannya ialah kapal itu cuman sekali satu tahun melalui perjalanan sepanjang 2.810 km, ditambahkan lagi ruang dalam kapal benar-benar terbatas.

Atau, Anda dapat menumpang ke satu dari sedikit kapal penangkap ikan yang tiba dan pergi. Tidak ada akses pesawat terbang ke situ.

Demikianlah susahnya ke arah atau tinggalkan Tristan de Cunha.

  1. Nama ‘Tristan da Cunha’ diambil dari nama pelacak dari Portugis

Nama ‘Tristan da cunha’ diambil dari nama penemu pulau tersebut, yakni Tristao da Cunha. Menurut narasi, ia adalah salah seorang pelacak dari Portugis yang lakukan pelayaran di tengah-tengah ombak dan seperti garang hingga memaksakan untuk berkunjung dalam suatu pulau dan lalu memasangkan namanya di pulau itu.

Beberapa ratus tahun kemudian, beberapa orang mulai menempati pulau kecil itu. Manfaatkan kekayaan laut, kehidupan di pulau itu juga diawali.

  1. Cuman dapat didatangi melalui lajur laut

Karena sangat terasingnya, Tristan da Cunha tidak mempunyai lapangan terbang atau akses jalan yang lain. Untuk berkunjung pulau ini cuman dapat dikerjakan lewat lajur laut. Itu juga cuman satu kali dalam satu tahun.

Tempuh perjalanan beberapa ribu km pasti memerlukan saat yang lama. Kadang beberapa kapal nelayan bahkan juga tidak dapat sampai ke pulau ini.

  1. Cuman ditempati oleh 200-an masyarakat

Bukan suatu hal yang mengejutkan jika Tristan da Cunha cuman ditempati oleh beberapa ratus orang. Bila bertandang ke pulau ini, kamu kemungkinan cuma akan berjumpa sama orang yang itu-itu saja.

Bahkan juga beritanya, sebab komunitas warga yang sedikit, tidak jarang ada pernikahan sama-sama saudara hingga memunculkan penyakit genetik.

  1. Masih ada beberapa toko untuk penuhi keperluan

Walaupun terasing, Tristan da Cunha sedikit lebih kekinian. Di situ, masih ada beberapa toko kecil, sekolah, sebuah supermarket, dan satu dokter untuk mendukung kehidupan.

Tristan da Cunha punyai keunikan sendiri dengan makanan lautnya. Di situ tidak ada buah-buahan atau sayur. Hingga warga di tempat betul-betul gantungkan hidupnya pada lautan.

  1. Selingan: Anda dapat dengar ‘rumput tumbuh’

Benar-benar sepi di sini, bahkan juga Anda dapat dengar rumput tumbuh,” kata Harold, yang menyukai kenyamanan dan ketenangan kampungnya.

Tapi, akses internet di pulau ini “jelek atau bahkan juga buruk sekali!”. Di kebun itu, warga umumnya menanam beberapa sayur meskipun “umumnya kentang,” kata seorang bekas warga, “dan pada musim panas kita dapat ke sana dan nikmati sedikit berlibur ‘ke luar kota’.”

Selingan kegemaran di situ ialah acara pesta barbekyu atau disebutkan braai – satu dampak dari Afrika Selatan yang posisinya terdekat – dan peluang terhebat mengurus hasil ternak lokal.

Bermain alat musik dan menyanyi bersama pernah jadi kehidupan khusus warga pulau, tapi “sekarang ini umumnya mereka lebih senang habiskan waktu luang di muka monitor,” kata Alasdair.

Ada pula opsi untuk lakukan pendakian dan nikmati keelokan alam di seputar pulau – yang lebarnya tidak lebih dari 10 km – dan bisa juga nikmati lembah terjal dan pegunungan curam yang ada di 2.062 mtr. di permukaan laut.

Kenyataannya, nyaris tidak ada wilayah agak miring di sini. Dinding batu curam yang bertemu langsung dengan gempuran ombak laut terlepas menghampar luas melingkari lebih dari dua pertiga garis keliling pulau itu.

  1. Lokasi yang cantik, tetapi bukan surga

Pulau Tristan da Cunha, atau dapat disebutkan Tristan ialah pulau khusus dari formasi kepulauan vulkanis yang berada di Samudera Atlantik Selatan itu.

Ada satu pulau namanya Nightingale sebagai tempat favorite orang Tristan untuk berlibur dan berenang sebab tidak begitu beresiko – arus tidak begitu kuat dan rendah teror dari hiu.

Lalu, ada Pulau Inaccessible atau tidak bisa dijangkau dan Pulau Gough yang berbatu, tempat Afrika Selatan membangun pusat stasiun cuaca dan tempatkan beberapa pakar meteorologi yang dirotasi tahunan.

“Ada kecondongan untuk meromantisasi kehidupan pulau,” kata Alasdair, tapi Anda melakukan atas resiko Anda sendiri, “Benar-benar lokasi yang cantik, tetapi bukan surga.”

Lalu, ada Pulau Inaccessible atau tidak bisa dijangkau dan Pulau Gough yang berbatu, tempat Afrika Selatan membangun pusat stasiun cuaca dan tempatkan beberapa pakar meteorologi yang dirotasi tahunan.

“Ada kecondongan untuk meromantisasi kehidupan pulau,” kata Alasdair, tapi Anda melakukan atas resiko Anda sendiri, “Benar-benar lokasi yang cantik, tetapi bukan surga.”

  1. Pulau yang sunyi: ‘Ribuan burung tidak berkicau

Kecuali hembusan angin dan suara sapi aneh yang meraung di pulau khusus, Anda tidak bisa dengar suara lain di sini.

Satu perihal yang menonjol mengenai kepulauan ini ialah Anda bisa dikitari oleh beberapa ribu burung ke mana juga Anda pergi tetapi tak pernah dengar satu juga dari mereka berkicau.

Satu ironi, banyak sekali burung tetapi tidak ada kicau burung,” kata Alasdair, yang menyebutkan situsnya penguins-and-potatoes.co.uk. Untuk menghargai penguin rockhopper yang tidak terhitung banyaknya di pulau itu.

Minimnya predator bermakna jika beberapa burung jadi tidak bisa terbang, seperti Pulau Inaccessible, satu dari banyak spesies epidemik ciri khas kepulauan.

Itu beberapa bukti mengenai Tristan da Cunha, pulau paling terasing di dunia yang ditempati. Selaku manusia, telah semestinya kita jaga kelestarian alam seputar, ya!